✅ KELAHIRAN

Terlahir disebuah desa bernama desa Kebanggan, sebuah desa kecil diwilayah kecamatan sumbang, kabupaten banyumas, purwokerto – jawa tengah. Seorang bayi mungil laki-laki terlahir tanpa bantuan bidan/dokter/dukun bayi. Berdasarkan penuturan dari Ibu, saya terlahir mandiri disebuah kamar kecil disaat Bulik saya sedang memanggil dukun bayi ke rumah, dalam dialeg banyumas istilahnya disebut “mbrojol dhisit”. Pemberian nama “Fahrudin” adalah hadiah nama yang diberikan oleh Guru Ngaji/Agama dikampung yang bernama Bu Warisem Rohimahallah (semoga Allah rahmati beliau), karena dari 3 bersaudara hanya saya yang diberi nama berbahasa arab yang memiliki makna “Kebanggaan Agama”.
✅ WAFATNYA SANG AYAH DAN RESMI MENJADI YATIM
Dikisahkan oleh Ibu, saat mengandungku qodarullah beliau diuji dengan mengidap penyakit lemah jantung. Dikisahkan oleh Ibu, saat saya masih dalam kandungan usia 5 bulan qodarullah ayah diuji dengan sebuah penyakit kejang-kejang (mirip epilepsi) lebih dari 4 tahun lamanya diderita. Dalam kisahnya ketika penyakit itu kambuh ayah tidak kuasa menahan sakitnya kepala sampai terkadang menjerit kesakitan dan terkadang harus dipegang oleh beberapa orang untuk menjaga kondisi ayah yang sangat merasa kesakitan (dalam dialeg banyumas : nganti jempalitan). Tidak selesai ujian sampai disitu, kemudian Allah berikan ujian tambahan untuk ayah dengan dipatuk ular di usia kehamilan saya 7 bulan pada saat perjalanan ke Masjid. Disaat saya dilahirkan, kondisi mata ayah saya sudah dalam kondisi tidak lagi dapat melihat dengan jelas dan hal ini berujung pada kebutaan permanen pada kedua mata beliau hingga beliau wafat. Dan singkat cerita pada usiaku 4 Tahun ayah meninggal dunia, ke haribaan ilahi Allah subhanahu wata’ala dan sejak saat itulah aku menyandang gelar anak Yatim. Semoga Allah terima amal sholih ayah dan diampunkan dosa-dosanya serta dijadikan kuburnya taman dari taman-taman syurga.
Kisah tentang Ayah bisa disimak pada halaman Ayahku Inspirasiku
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ قَالَ إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِى بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah berfirman, “Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan dua kekasihnya (kedua matanya), kemudian ia bersabar, niscaya Aku menggantikan keduanya (kedua matanya) dengan surga.”
(HR. Bukhari no. 5653).
Semoga Allah hadiahkan surga kepada ayah, dan kami kelak dikumpulkan disurga. Aamiin
✅ DIASUH OLEH KAKEK DAN NENEK ANGKAT
Pada saat Ayah sudah mulai sakit-sakitan akibat penyakit yang diderita selama bertahun-tahun, ekonomi keluarga kami mulai kocar-kacir karena ayah tidak lagi dapat maksimal mencari nafkah. Dan Ibu berupaya sekuat tenaga membantu ayah dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Dalam kondisi yang sempit seperti itu, akhirnya ayah memutuskan agar saya diasuh oleh orang yang lebih mempunyai kecukupan financial. Beliau adalah Istri dari Kakek Tiri saya (Nenek Tiri/Angkat).
Tepat pada umur 2,5 Tahun saya diasuh/diadopsi oleh kakek dan nenek angkat, dan harus terpisah dari keluarga inti saya (momen paling tidak bisa dilupakan dan sangat menyedihkan bagi hidup saya, karena harus dijauhkan dari ayah, ibu, mba dan kakak kandung saya). Berpindah dari sebuah desa kecil di Purwokerto ke kota metropolitan Jakarta di daerah Cijantung – Jakarta Timur.

Kebetulan Kakek angkat saya pada saat itu bekerja di sekolah MTs Negeri 7 Cijantung, Jakarta dibawah Yayasan PB Soedirman sebagai pesuruh disekolah tersebut, adapun Nenek angkat memiliki usaha kantin area sekolah menjajakan aneka makanan (seperti bakso, gorengan dan makanan kantin) berjualan ke anak-anak sekolah dan juga para guru dan karyawan sekolah. Semenjak itulah saya tinggal seorang diri tanpa saudara dan jauh dari keluarga inti, karena nenek tidak memiliki anak sehingga mengadopsi saya sebagai anak angkat.
Pada masa itu yang saya tau Kakek dan Nenek angkat adalah orang tua kandung saya, saya memanggil mereka dengan sebutan mama dan bapak, adapun kepada Ibu kandung saya justru memanggil beliau dengan panggilan “Teteh”. Mengapa hal ini ini bisa terjadi ??? Setelah diusut, pada saat pengasuhan diusia 2,5 tahun saya dibawa ke orang tidak normal dengan tujuan brain-washing, sehingga saya melupakan siapa orang tua saya yang sesungguhnya dan menganggap kakek dan nenek angkat saya adalah orang tua biologis saya (sebuah tragedi yang sempat membuat saya sangat hancur ketika mengetahui hal tersebut). Namun demikian saya menyadari hal tersebut dilakukan karena kasih sayang kakek dan nenek kepada saya, dan akhirnya saya berusaha memaafkan mereka dan tetap menganggap mereka sebagai orang tua yang berjasa membesarkan saya. Dan sampai tulisan ini saya update (April 2026) Nenek angkat saya masih hidup dan tinggal bersama saya, adapun Kakek angkat saya sudah meninggal dunia di bulan Maret 2026. Semoga Allah rahmati beliau.
✅ PINDAH KONTRAKAN KE DAERAH SUSUKAN CIRACAS
Saya tinggal di Jakarta dari usia 2,5 tahun hingga kelas 3 SD di 2 tempat yang berbeda. Usia 2,5 tahun sampai kelas 1 SD saya tinggal di Komplek PB Sudirman dirumah pengurus (yang diizinkan ditempati pengurus sekolah), kelas 2 SD sd 3 SD kami sekeluarga pindah ke Daerah Susukan kecamatan Ciracas, karena kakek tidak lagi bekerja di Mts Negeri 7 Cijantung yang akan dipindahkan ke Ciracas. Ditempat inilah saya disunat pada kenaikan kelas 2 SD ke kelas 3 SD.
✅ PINDAH KE KAMPUNG HALAMAN
Setelah bertahan kurang lebih 1 tahun di kontrakan di daerah Susukan, Ciracas. Ternyata kondisi ekonomi keluarga masih juga belum stabil, bahkan justru semakin merosot. Untuk itu kemudian pada kelas 4 SD Kakek dan Nenek angkat saya memutuskan untuk membawa saya pindah kembali ke Purwokerto. Hal itu terjadi karena kakek tidak lagi diberi amanah pekerjaan di sekolah MTs Negeri 7 Cijantung dan nenek juga tidak lagi mendapat tempat untuk berjualan (kantin) karena sekolah Mts dipindahkan ke area Ciracas pada tahun 1991 (Link Sejarah). Yang saat ini lebih dikenal dengan MTs Negeri 7 Model Jakarta
Pada saat kelas 4 SD hingga lulus STM saya tinggal di purwokerto bersama kakek dan nenek angkat, dengan izin Allah, alhamdulillah pada saat SMP kelas 1 saya mulai mengetahui bahwa kakek dan nenek angkat bukanlah orang tua biologis saya. Dan saya-pun mulai mengetahui bahwa saya adalah anak yatim dan Ibu saya yang sesungguhnya adalah beliau yang selama ini saya panggil “Teteh” dan beliaulah sosok motivator terbaik dalam hidup saya, sosok seorang pahlawan wanita keluarga yang harus menghidupi 3 anaknya setelah menjadi janda karena suami beliau (ayah kami) meninggal dunia. Simak kisahnya pada cerita Ibuku Pahlawanku Ibuku Pahlawanku